Friday, 9 February 2018

Mengulangi perilaku buruk umat-umat dahulu

Mengulangi perilaku buruk umat-umat dahulu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «سَيُصِيبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللّهِ، وَمَا دَاءُ الأُمَمِ؟ قَالَ: «الأَشَرُ وَالبَطَرُ، وَالتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا، وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ، حَتَّى يَكُونَ البَغْيُ» رواه الحاكم (4/168 رقم 7311).

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umatku akan terjangkiti penyakit umat-umat terdahulu” maka mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat terdahulu itu? Rasulullah bersabda: “Kufur ni’mat, berlebihan saat mendapat ni’mat, menumpuk harta dan berlebih-lebihan dalam masalah dunia, saling membenci, saling iri hati sehingga ia menjadi orang yang melampuai batas” (HR. Al-Hakim 4/168 no. 7311). Hasan

Realiti kehidupan umat Islam di era milenium ini, bahawa tidak sedikit di antara kaum Muslimin yang mengulangi perangai buruk umat-umat masa lalu, bertuhankan dunia dan hidup bergelumang dengan duniawi yang palsu dan menipu.Mereka berlumba-lumba mendapatkan kekayaan dunia dan berlumba-lumba mempamerkan kekayaan yang mereka miliki.

Mereka saling menipu dan menjatuhkan sesama muslim demi kepentingan pragmatisme duniawi. Mereka bahkan tidak segan melakukan kezaliman terhadap sesama Muslim semi keuntungan duniawi.
Disebabkan itu, di zaman ini kesatuan dalam umat Islam nyata koyak oleh sikap sombong dan angkuh sebahagian kaum Muslim yang berbangga-bangga dengan kekayaan yang mereka miliki,isyarat ini telah disebut oleh Rasulullah Sallalahua'laihi wasallam.

Orang-orang yang telah terlena oleh kesenangan duniawi,mereka sanggup melakukan apa sahaja demi mendapatkannya, walaupun harus menyalahi syariat mahupun meninggalkan aqidah. Padahal Allah Ta'ala ada menyebutkan tentang hakikat dunia yang sebenar dalam firmanya,

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. An-Nisa:77

Dan juga firman Allah Ta'ala,

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Al-Hijr:88

Mereka bahkan tidak segan berperangai seperti yang lazim dilihat pada orang kafir demi meraih kesenangan dan kenikmatan duniawi. Hal ini disebutkan oleh Allah Ta'ala,

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. Al-Baqarah:212

Dalam era milenium ini,banyak terjadi pertikaian antara sesama Muslim kerana merebut dunia,yang harganya tidak lebih dari bangkai. Pada zaman ini,ramai manusia berstatus Muslim rela meminggirkan nilai-nilai agama demi memuaskan hawa nafsu duniawi. Renungkanlah sabda Rasulullah Sallalahua'laihi wasallam.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ يَعْنِي ابْنَ بِلَالٍ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَرْعَرَةَ السَّامِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِيَانِ الثَّقَفِيَّ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ فَلَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ هَذَا السَّكَكُ بِهِ عَيْبًا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Ja'far dari ayahnya dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga melekat, beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: "Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?" mereka menjawab: Kami tidak mau memilikinya, untuk apa? Beliau bersabda: "Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian?" mereka menjawab: Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati? Beliau bersabda: "Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian." Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna Al Anazi dan Ibrahim bin Muhammad bin Ararah As Sami keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abdulwahhab Ats Tsaqafi dari Ja'far dari ayahnya dari Jabir dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam sepertinya hanya saja dalam hadits Ats Tsaqafi disebutkan: Bila pun hidup, telinga yang menempel ini aib. HR Muslim,5257

Menegakkan nilai-nilai agama Laksana menggengam bara api

Menegakkan nilai-nilai agama Laksana menggengam bara api

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى الْفَزَارِيُّ ابْنُ بِنْتِ السُّدِّيِّ الْكُوفِيِّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَعُمَرُ بْنُ شَاكِرٍ شَيْخٌ بَصْرِيٌّ قَدْ رَوَى عَنْهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi Al Kufi telah bercerita kepada kami Umar bin Syakir dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Akan datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api." Abu Isa berkata: Hadits ini gharib dari Jalur sanad ini, Umar bin Syakir adalah syeikh Bashrah, banyak ahlul ilmu meriwayatkan hadits darinya. At-Tirmizi, 2186. Sahih.

Dalam era terkini,berpegang teguh kepada ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi Sallallahu 'alaihi wa salam akan menyebabkan seseorang itu bakal menghadapi kesulitan yang luar biasa, dan orang-orang yang berjuang menegakkan syariat Islam akan akrab dengan ejekan dan cemuhan, serta dilebal sebagai radikal,fundamental bahkan akan dituduh pengganas.

Pada zaman ini, orang yang teguh hati menjalankan ketaatan kepada Allah, orang yang bertekad bulat menerapkan menerapkan kehidupan menurut lunas Islam,orang yang teguh menerapkan Sunnah Nabi Sallallahu 'alaihi wa salam, orang yang menghidupkan syiar keagamaan, ternyata harus menghadapi pelbagai hal yang menyakitkan.

Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa salam menyamakan orang yang taat beragama dan teguh memegang prinsip-prinsip Islam di era globalisasi saat ini dengan ungkapan, "Orang yang sedang menggengam bara api". Berlapanglah fikiran memikirkan hakikat hidup yang dialami kaum Muslimin masa kini.

Dalam skala agama,para pejuang syariat Islam harus berhadapan dengan sesama Muslim yang beraliran libralisme dan pluralisme(kepelbagaian fahaman atau agama masyarakat).

Dalam skala kehidupan sosial,orang yang menerapkan ajaran al-Quran dan Sunnah, bakal dipencilkan dalam masyarakatnya serta dilabelkan sebagai penggiat Islam yang berbeza.

Oleh kerana itu, dalam era globalisasi ini, orang yang tidak memiliki keteguhan iman dan kesabaran yang jernih nescaya nilai-nilai iman Islamnya akan terlepas daripada genggaman. Orang yang menegakkan nilai-nilai murni Islam terasa sempit ruang geraknya.

Oleh yang demikian,masyarakat kini lebih cenderung mengedepankan kepentingan duniawi berbanding akhirat, lebih berpihak kepada kemungkaran berbanding kebaikan, lebih mengutamakan tradisi budaya berbanding tuntutan syariat,lebih mengedepankan penampilan lambang-lambang keIslaman berbanding menyelami nilai-nilai spiritual, lebih percaya ideologi buatan manusia berbanding akidah Islam.

ُّ عَنْ أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ لَهُ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهَذِهِ الْآيَةِ قَالَ أَيَّةُ آيَةٍ قُلْتُ قَوْلُهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَزَادَنِي غَيْرُ عُتْبَةَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ قَالَ بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

dari Abu Umaiyah Asy Sya'bani ia berkata; Aku menemui Abu Tsa'labah Al Khusyani lalu aku berkata padanya; "Apa yang kamu perbuat dengan ayat ini?" ia bertanya; "Ayat yang mana?" Aku menjelaskan; Firman Allah Ta'ala Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. QS Al Ma`idah: 105, Abu Tsa'labah berkata; "Ingatlah, demi Allah, kamu bertanya dengan orang yang tahu, aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menjawab: "Akan tetapi, perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kehiduoan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian." Abdullah bin Al Mubarak berkata; Selain 'Utbah menambahiku: Dikatakan; "Wahai Rasulullah, pahala limapuluh orang dari kami atau dari mereka?" Beliau menjawab: "Bahkan pahala limapuluh orang dari kalian." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib. HR Tirmizi, 2984.

Realiti kehidupan masa kini menunjukkan bahawa keinginan menjadi soleh dan sentiasa menegakkan nilai-nilai agama, tidak cukup hanya bermodalkan niat. Lebih dari itu diperlukan keteguhan hati yang tulus da kesabaran yang kuat dalam menjalani ketaatan beribadah mahupun menyelamatkan aqidah.

Zaman kini, orang yang ragu-ragu dan tidak teguh memegang nilai-nilai agama, nescaya iman dan Islam yang menyinari dadanya bakal redup dan kehidupannya akan jauh daripada nilai-nilai Islam dan hal ini telah terbukti masa kini.

Sifat asas seorang Muslim adalah istiqamah nenegakkan nilai-nilai tauhid,iaitu tidak bersujud selain hanya kepada Rabb yang Esa pencipta langit dan bumi.

Tulus ikhlas menjadikan Allah satu-satuNya Tuhan yang disembah, segala permasaalahan hidup dipasrahkan hanya kepada Allah, berserah diri kepadaNya dengan ketundukan hati dan jiwa yang utuh, serta tidak menyegutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Hal ini selaras dengan firmam Allah Subhanahuwata'ala,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Al-Anam:162

Sikap hidup seorang Muslim sentiasa bersendikan nilai-nilai takwa. Maka adapun takwa itu sebenarnya adalah memuliakan Allah dan mengasihi sesama makhlukNya. Matlamat hidup seorang Muslim adalah meletakkan sepenuh pengabdian kepada Allah, yang seiring dengan gerak-geri bersendikan nilai-nilai kasih sayang,perdamaian dan keadilan. Orang yang menghiasi diri dengan nilai-nilai takwa dan akhlak yang luhur dalam menterjemahkan hidup dan menjalani kehidupannya sehari-hari, dialah sebenarnya yang layak disebut Muslim sejati.

Hubungan Iman dengan jiran,Tetamu dan berkata baik.

Hubungan Iman dengan jiran,Tetamu dan berkata baik.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam." HR Bukhari,5559.

Ini menunjukkan bahawa perbuatan-perbuatan tersebut di dalam hadith di atas adalah perkara-perkara yang ada hubung kait dengan keimanan.

Perbuatan-perbuatan yang berhubung kait dengan keimanan ada yang berkait dengan hak-hak Allah Ta'ala, seperti menunaikan dan menyempurnakan yang berupa kewajipan-kewajipan atau meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Dan juga termasuk dalam cakupan perbuatan-perbuatan iman, ialah berkata-kata dalam hal yang baik atau diam dari menuturkan perkara-perkara yang keji atau kotor. 
Perbuatan-perbuatan iman juga terkadang terkait dengan hak-hak terhadap hamba-hamba Allah, misalnya memuliakan tetamu, memuliakan tetangga, dan tidak menyakiti mereka. Ketiga-tiga perkara tersebut itu diperintahkan kepada setiap mukmin, salah satunya daripadanya adalah dengan mengucapkan perkataan yang baik atau diam daripada menuturkan perkataan-perkara yang keji atau kotor.

Hak bagi jiran tetangga:

Adapun memuliakan tetangga dan berbuat baik kepada mereka adalah diperintahkan oleh Allah Ta’ala,sebagaimana firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Beribadahlah kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. an-Nisa:36

Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihi wasallam,

ِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai sekalian kaum wanita, janganlah sekali-kali kalian meremehkan pemberian seorang tetangga kepada tetangganya walau pun hanya berupa kuku kambing." Muslim.1711

Dalam sebahagian riwayat terdapat larangan menyakiti tetangga kerana menyakiti jiran tetangga hukumnya adalah haram. Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihi wasallam,

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ.

“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman,” ditanyakan, “Wahai Rasulullah, siapa dia?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”HR Bukhari

Hak bagi tetamu,

Hak bagi tetamu adalah memuliakan mereka, diantaranya adalah dengan menjamunya dengan baik.Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihi wasallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ. قَالَ : وَمَا جَائِزَتُهُ ، يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ ، وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ ، وَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya dengan memberikannya hadiah”. Sahabat bertanya, “Apa hadiahnya itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Menjamunya) sehari semalam. Jamuan untuk tamu ialah tiga hari, dan selebihnya adalah sedekah”.HR Bukhari

Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihi wasallam,

َالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ ، وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ ، وَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقِيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ. قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ يُؤْثِمُهُ ؟ قَالَ : يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَ لَا شَيْءَ لَهُ يَقْرِيْهِ بِهِ.

“Jamuan untuk tamu adalah tiga hari dan hadiah (untuk bekal perjalanan) untuk sehari semalam. Tidak halal bagi seorang muslim menetap di rumah saudaranya kemudian membuatnya berdosa”. Para sahabat bertanya: “Wahai, Rasulullah! Bagaimana ia membuatnya berdosa?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab: “Ia (tamu tersebut) menetap padanya, namun tuan rumah tidak mempunyai sesuatu untuk memuliakannya”.HR Muslim.

Hak bagi Kata-kata

Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). Qaf:18

Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihi wasallam,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْـمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ.

Sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak ia teliti kebenarannya, ucapannya itu menyebabkannya tergelincir di neraka lebih jauh dari pada jauhnya antara timur dan barat.HR Bukhari

Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihi wasallam,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.

Sesungguhnya seseorang mengatakan satu kalimat yang diridhai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya, melainkan Allah akan mengangkatnya beberapa derajat. Sesungguhnya seorang hamba mengatakan kalimat yang dimurkai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya melainkan ia terjerumus dengan sebab kalimat itu ke Jahannam.HR Bukhari

Hak bagi Kata-kata adalah bahawa perkataan yang tidak baik hendaknya tidak diucapkan, justeru itu lebih baik diam, kecuali jika sangat diperlukan. Sebab, banyak berbicara yang tidak bermanfaat juga boleh membuatkan hati menjadi keras.

Sepertiga malam terakhir adalah Waktu mustajab untuk berdoa

Sepertiga malam terakhir adalah Waktu mustajab untuk berdoa

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرِّ وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Abdullah Al Aghar dan Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rabb kita Tabaraka wata'ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir, lantas Dia berfirman; 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengijabahinya, siapa yang meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya." HR Bukhari,5846

Firman Allah Subhanahuwata'ala,

قُمِ اللَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً

“Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.” Al Muzzamil: 2-3

Waktu tersebut adalah waktu yang mulia dan terdapat dorongan untuk beramal di waktu tersebut. Dan juga diantara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah di waktu sepertiga malam terakhir. Namun waktu mustajab ini sering dilalaikan kerana kita diuji dengan tidur yang lena. Justeru itu bertekadlah untuk mengisi waktu tersebut untuk solat tahajjud dan memperbanyak do’a atas setiap hajat kita. Sabda Rasulullah Saallallahu 'alaihi wasallam,

و حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir ia berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu ia memohon kebaikan kepada Allah 'azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam." HR Muslim,757.

Waktu malam diukur dari tenggelamnya matahari (iaitu waktu Maghrib) hingga terbit fajar Subuh. Jika waktu Maghrib kira-kira dari pukul 7:00 petang dan waktu Subuh pukul 05:00 pagi, bermakna waktu malam adalah sekitar 10 jam. Pertengahan malam bererti pukul 12:00 malam. Sedangkan sepertiga malam terakhir dimulai kira-kira pukul 2:00 pagi.

Friday, 19 January 2018

Doa: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kedekut, pengecut, terlilit hutang dan dari keganasan orang"

Doa: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kedekut, pengecut, terlilit hutang dan dari keganasan orang"

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي طَلْحَةَ الْتَمِسْ غُلَامًا مِنْ غِلْمَانِكُمْ يَخْدُمُنِي حَتَّى أَخْرُجَ إِلَى خَيْبَرَ فَخَرَجَ بِي أَبُو طَلْحَةَ مُرْدِفِي وَأَنَا غُلَامٌ رَاهَقْتُ الْحُلُمَ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ كَثِيرًا يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ ثُمَّ قَدِمْنَا خَيْبَرَ فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْحِصْنَ ذُكِرَ لَهُ جَمَالُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيِّ بْنِ أَخْطَبَ وَقَدْ قُتِلَ زَوْجُهَا وَكَانَتْ عَرُوسًا فَاصْطَفَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فَخَرَجَ بِهَا حَتَّى بَلَغْنَا سَدَّ الصَّهْبَاءِ حَلَّتْ فَبَنَى بِهَا ثُمَّ صَنَعَ حَيْسًا فِي نِطَعٍ صَغِيرٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آذِنْ مَنْ حَوْلَكَ فَكَانَتْ تِلْكَ وَلِيمَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى صَفِيَّةَ ثُمَّ خَرَجْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَوِّي لَهَا وَرَاءَهُ بِعَبَاءَةٍ ثُمَّ يَجْلِسُ عِنْدَ بَعِيرِهِ فَيَضَعُ رُكْبَتَهُ فَتَضَعُ صَفِيَّةُ رِجْلَهَا عَلَى رُكْبَتِهِ حَتَّى تَرْكَبَ فَسِرْنَا حَتَّى إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ نَظَرَ إِلَى أُحُدٍ فَقَالَ هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ ثُمَّ نَظَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا بِمِثْلِ مَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مُدِّهِمْ وَصَاعِهِمْ

Telah bercerita kepada kami Qutaibah telah bercerita kepada kami Ya'qub dari 'Amru dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Abu Thalhah: "Carilah seorang ghulam (anak kecil sebagai pelayan) dari ghulam milikmu untuk melayaniku selama keberangkatan ke Khaibar. Maka Abu Thalhah keluar bersamaku dengan memboncengku. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hampir baligh. Aku melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat Beliau singgah dan aku selalu mendengar Beliau banyak berdo'a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

"ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL 'AJZI WAL KASALI WAL BUKHLI WAL JUBNI WA DLAL'ID DAINI WA GHALABATIR RIJAAL" (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari keganasan orang"). Kemudian kami sampai di Khaibar. Ketika Allah membukakan kemenangan kepada Beliau pada peperangan itu, diceritakan kepada Beliau tentang kecantikan Shofiyah binti Huyay bin Akhthab yang suaminya telah terbunuh dan dia menjanda. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memilihnya untuk diri Beliau sendiri (sebagai tawanan) lalu Beliau berangkat bersamanya hingga ketika kami tiba di Saddal Shohbaa', dia beristirahat lalu Beliau membuatkan baginya tempat (kemah) lalu membuat makanan terbuat dari kurma dalam wajan kecil kemudian Beliau berkata: "Beri tahu orang-orang yang ada di sekitarmu". Dan itulah walimah (resepsi pernikahan) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan Shofiyah. Kemudian kami berangkat menuju Madinah. Anas radliallahu 'anhu berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan Shofiyah di belakang unta tunggangan Beliau dimana Beliau duduk di atasnya dan meletakkan lutut Beliau sedemikian rupa sehingga Shofiyah bisa meletakkan kakinya di atas lutut Beliau kemudian berjalan mengendarainya. Maka kami terus berjalan hingga ketika kami hampir tiba di Madinah, Beliau memandang ke bukit Uhud seraya berdo'a: "Ini adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya". Kemudian Beliau memandang ke arah Madinah lalu berdo'a: "Ya Allah sungguh aku mensucikan kota yang terletak di antara dua bukit hitam ini (Madinah) sebagaimana Ibrahim AS mensucikan Makkah. Ya Allah, berikanlah barakah kepada mereka (penduduk Madinah) dalam takaran mud dan sho' mereka". HR Bukhari,2679.

الْهَمِّ ( Kegelisahan ) dan الْحَزَنِ ( Kesedihan )

Kedua-duanya membuatkan jiwa menjadi tidak tenang,tidak tenteram dan tidak selesa. الْهَمِّ adalah kegelisahan terhadap sesuatu kemungkinan akan belaku di masa hadapan. الْحَزَنِ pula adalah kesedihan terhadap sesuatu yang telah berlaku.

Dua jenis perasaan ini telah disebut oleh Allah Ta'ala dalam firmannya:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ Yunus : 62-63

الْعَجْزِ ( lemah ) dan الْكَسَلِ ( malas ) kedua-duanya adalah gangguan jiwa yang menyebabkan jiwa tidak tenang kerana malas adalah tiadak ada kemahuan,walaupun dia mampu dan akan menjadi batu penghalang terhadap penyempurnaan cita-cita atau suatu keinginan. Dan lemah pula adalah tidak adanya kemampuan diri untuk mengerjakan sesuatu walau pada hakikatnya dia mempunyai kemahuan.

الْجُبْنِ ( penakut ) dan الْبُخْلِ ( bakhil ) kedua-duanya adalah penyakit jiwa yang ada dalam diri seseorang yang akan melahirkan kebimbangan dan kerisauan terhadap nyawa dan hartanya di masa akan datang, maka ia bimbang terhadap keselamatan nyawanya. Dan juga bimbang takut hartanya habis.
Kedua-duanya adalah penyakit jiwa akan membahayakan akhirat akherat dan agamanya, serta akan memberi kesan terhadap dunia dan kesihatannya sendiri.

ضَلَعِ الدَّيْنِ( Hutang yang melilit ) dan 
غَلَبَةِ الرِّجَالِ ( Penguasaan orang ), dua perkara yang berkait antara satu sama lain. Iaitu seseorang yang mempunyai hutang yang banyak yang melilit atau melingkari hidupnya, maka akan kenyebabkan dia akan tunduk dibawah pengawasan dan kekuasaan orang yang menghutanginya. Maka dia akan rela mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh orang yang memberikan hutang kepadanya asal hutangnya dihapuskan, bahkan terkadang rela menjual dirinya dan kehormatannya demi untuk membayar hutang.

Dalam sebuah hadith yang lain Rasulullah Sallalahu a'laihiwasallam mebaca doa tersebut di bawah di dalam solatnya,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“ Dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam shalat membaca do'a: “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masihid Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang.” HR Bukhari.

Jauhilah dosa Syirik

Jauhilah dosa Syirik

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ } شَقَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لَا يَظْلِمُ نَفْسَهُ قَالَ لَيْسَ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ { يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

Telah bercerita kepadaku Ishaq telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus telah bercerita kepada kami Al A'masy dari Ibrahim dari 'Alqamah dari 'Abdullah berkata; "Ketika turun firman Allah Ta'ala yang artinya: ("Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman ….") (QS al-An'am ayat 82), membuat kaum muslimin menjadi ragu lalu mereka berkata: "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, adakah orang di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya?". Maka beliau berkata: "Bukan itu maksudnya. Sesungguhnya yang dimaksud dengan kezhaliman pada ayat itu adalah syirik. Apakah kalian belum pernah mendengar apa yang diucapkan Luqman kepada anaknya saat dia memberi pelajaran: ("Wahai anakku, Janganlah kamu berbuat syirik (menyekutukan Allah), karena sesungguhnya syirik itu benar-benar kezhaliman yang besar"). (QS Luqman ayat 13). HR Bukhari.3175

Syirik merupakan kezaliman yang terberat dan dosa terbesar yang dilakukan oleh anak Adam terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala 
merakamkan didalam firmannya ,iaitunasihat Luqman kepada anaknya agar tidak berbuat syirik,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar." Luqman: 13

Musyrik adalah seseorang yang menyamakan sesuatu yang tidak memiliki apa-apa kekuasaan keatas apapun jua dengan Zat yang kesemua urusan berada didalam kekuasaan dan kehendak-Nya.

Bagaimana mungkin, makhluk yang lemah, yang senantiasa memerlukam kepada rezeki dan kurnian Allah, makhluk yang tidak berkuasa atas hidup dan matinya sendiri disamakan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai sang pencipta kepada semua makhluk, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan mereka, dan Maha kuasa atas segala sesuatu. Dan Allah Ta'ala memberi peringatan dalam berfirman-Nya,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Al-An'am: 82

Dan kesan kesyirikan kepada seseorang adalah seperti Firman Allah Ta'ala,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." Al-Zumar: 65

Dan juga Firman Allah Ta'ala,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun." (QS. Al-Maidah: 72)

Dan juga firman Allah Ta'ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. Al-Nisa': 48)

Ayat-ayat di atas yang menerangkan ancaman perbuatan syirik yang menimpa pelakunya di akhriat. Iaitu orang yang bertemu Allah Ta'ala dengan membawa dosa syirik dan belum atau tidak bertaubat dari dosa tersebut, maka ia tidak akan disucikan, tidak akan diampuni dosa dan kesalahannya, dan diharamkan atasnya masuk syurga sehingga ia kekal di neraka. Nauzubillah

Tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi

Tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Husyaim Telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abi Bakr bin Anas dari Anas radliallahu 'anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "'Tolonglah saudaramu baik ia zhalim atau dizhalimi." Ada seorang laki-laki bertanya; 'ya Rasulullah, saya maklum jika ia dizhalimi, namun bagaimana saya menolong padahal ia zhalim? ' Nabi menjawab; "engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman, itulah cara menolongnya." HR Bukhari,6438.

Dalil al-Qur'an,

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Asy-Syura:42

Menolong orang yang berbuat zalim adalah dengan mencegah kejahatan dirinya 
dari berbuat jahat dan juga mencegahnya dari menuruti hawa nafsunya yang batil serta mencegah dari kejahatan syaitan yang ada dalam dirinya. Juga menolongnya dengan mencegah ia dari berbuat jahat bererti telah mencegahnya dari berbuat dosa.

Menolong orang yang dizalimi pula adalah dengan cara mengembalikan haknya atau menghindarkannya dari perbuatan orang zalim, dan hukumnya adalah fardu kifayah.

Dan ingatlah bahawasanya orang yang zalim pula akan jadi bankrup di akhirat nanti sepertimana yang di sebutkan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Qutaibah bin Sa’iid dan ‘Aliy bin Hujr menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Ismaa’iil –dia adalah Ibnu Ja’far- menceritakan kepada kami, dari Al-‘Alaa’, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya,“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham dan tidak pula harta kekayaan.”Rasulullah pun menjelaskan, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang di hari kiamat nanti dengan pahala amalan shalat, puasa dan zakat namun ia selalu mencaci-maki, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah serta memukul orang lain. Maka diberikanlah bagian dari pahala kebaikannya untuk orang-orang yang ia sakiti tersebut. Apabila pahala kebaikan miliknya telah habis sebelum terpenuhinya pembalasan atas perbuatan zhalimnya, diambillah dari dosa-dosa mereka kemudian dialihkan kepadanya, lantas ia pun dilemparkan ke dalam neraka!”HR Muslim

Pandanglah kedudukan orang yang di bawahmu dalam hal dunia dan harta,nescaya engkau akan mewarisi sifat syukur. Dan pandanglah kedudukan orang yang di atasmu dalam hal agama dan akhiratmu mudah-mudahan engkau akan mewarisi sifat istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.

Pandanglah kedudukan orang yang di bawahmu dalam hal dunia dan harta,nescaya engkau akan mewarisi sifat syukur. Dan pandanglah kedudukan orang yang di atasmu dalam hal agama dan akhiratmu mudah-mudahan engkau akan mewarisi sifat istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.

أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang lebih tinggi dari kalian, sesungguhnya hal itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." Abu Mu'awiyah menyebutkan dengan redaksi, "(nikmat Allah) atas kalian." HR Ibnu Majah,4132. Sahih.

Berapa ramai orang yang tersilau dengan kilauan harta benda orang lain. Sehingga tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika dia telah mendapatkan sesuatu harta dunia, tetapi masih merasa belum puas dan masih ingin terus mengear yang lebih.

Sikap seorang muslim yang benar adalah bukan begitu, namun hendaklah dia selalu melihat orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Berapa ramai orang yang keadaan ekonominya jauh di bawah kita, yang mana kedudukan ekonominya berada di bawah garis kemiskinan. Untuk makan minum sehari-hari saja mereka mesti bersusah payah mencari disana sini dan juga kadang-kadang terpaksa berhutang disana sini,

Dengan memiliki sifat yang mulia ini l, iaitu dengan selalu memandang orang di bawahnya dalam urusan dunia dan harta, maka seseorang akan merealisasikan syukur dengan sebenarnya dalam dirinyaf.

Justeru itu, jika seseorang melihat orang di atasnya (iaitu dalam masalah harta dan dunia), maka dia akan menganggap kecil terhadap nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. 
Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatkannya redho dan bersyukur diatas nikmat Allah yang diberikan kepadanya.”
Oleh itu cara mengubati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang itu melihat orang yang berada di bawahnya iaitu dalam masalah harta dan dunia. Dengan melakukan semacam ini, maka seseorang akan redho dan bersyukur, juga rasa tamaknya terhadap harta dan dunia akan menipis atau berkurang.

Jika seseorang itu sering memandang kedudukan orang yang berada di atasnya,nescaya dia akan mengingkari dan tidak akan merasa puas terhadap nikmat yang telah diberikan Allah yang kepadanya. Sebagaimana yang difirman oleh Allah Subhanahuwata'ala,

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.al-Insan:3

Dan juga,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Dalam perkara Agama dan Akhirat:

Dalam masalah agama dan akhirat pula hendaklah seseorang itu memandang kedudukan orang yang berada di atasnya. Seharusnyalah seseorang itu memandang bahawa amalan soleh yang dia lakukan masih jauh keringgalan di belakang berbanding para Nabi, shidiqn, syuhada’ dan orang-orang soleh. Justeru itu empat golongan ini sewajarnyalah dijadikan contoh perbandingan dan pembina semangat dalam menelusuri jalan-jalan menuju keredaan Allah Subhanahuwata'ala,sebagaimana berdasarkan firman Allah Subhanahuwata'ala,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. An-Nisa:69

Solafussoleh memang terkenal dengan semangat dalam melaksakan kebaikan, dalam menjalani ibadah solat, puasa, sedekah, membaca Al Qur’an, menuntut ilmu dan juga amalan lainnya. Justeru itu,maka haruslah bagi setiap orang memiliki cara pandang yang sebegini dalam masalah agama, ketaatan, proses mendekatan diri kepada Allah, juga dalam meraih pahala dan syurga. Oleh itu, sikap yang sebenarnya, hendaklah seseorang itu berusaha melakukan kebaikan sebagaimana yang Solafussoleh lakukan. Inilah yang dinamakan berlolumba-lumba dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahuwarlta'ala,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Al Ma’idah: 48

Seumpama dalam perkara berlumba-lumba untuk meraih kenikmatan syurga, Allah Subhanahuwarlta'ala berfirman,

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)

“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” Al Muthaffifin: 22-26

Dalam ayat lainnya, Allah Subhanahuwarlta'ala telah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” Ali Imran: 133

Inilah yang telah dilakukan oleh Solafussoleh yang terdahulu, dimana mereka selalu berlumba-lumba dalam kebaikan.

Friday, 12 January 2018

Zikir ketika hendak keluar rumah

Zikir ketika hendak keluar rumah

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ يَعْنِي إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ يُقَالُ لَهُ كُفِيتَ وَوُقِيتَ وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al Umawi telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Barang siapa yang ketika keluar dari rumahnya mengucapkan; 
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ 
BISMILLAAHI TAWAKKALTU ALALLAAHI LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (Dengan nama Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan dengan pertolongan Allah) maka dikatakan baginya, engkau telah mendapatkan kecukupan, telah mendapat pertolongan dan syetan menjauh darimu." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini. HR Tirmizi, 3426

Keluar rumah dan masuk ke dalam rumah adalah merupakan salah satu rutin harian setiap manusia. Sebagai seorang muslim yang menyandarkan dirinya kepada Allah Ta'ala dan mengukuti jalan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saallallahu ‘alaihi wa sallam yang 
merupakan sebaik-baik makhluk di atas muka bumi ini, maka sudah semistinya dia memperhatikan bagaimana agama ini mengajarkan perkara tersebut.

Pengajaran yang dapat perolehi dari Hadith yang agong ini, menunjukkan bahawa besarnya keutamaan orang yang mengucapkan zikir ini ketika hendak keluar rumah, dan bahawasanya ianya merupakan sebab untuk dia diberi kecukupan dan dijaga oleh Allah Ta’ala serta dilindungi dari gangguan syaitan.

Bertawakkal:
Bertawakal, iaitu berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dalam semua urusan agama, dunia dan akhiratnya. Dengan bersandar kepada-Nya dalam mengusahakan segala kebaikan bagi dirinya dan menolak segala keburukan dari dirinya, serta dengan sepenuh keyakinan bahawa kemudahan akan diberikan oleh-Nya. maka Allah Ta’ala akan memudahkan semua urusannya tersebut.

Penyerahan sepenuh hati kepada Allah Ta’ala adalah merupakan sebab utama untuk mendapatkan petunjuk dan perlindungan dari Allah Ta'ala dalam semua urusan manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya” Ath-Thalaaq: 3

Syaitan tidak memiliki apa-apa kudrat:

Syaitan adalah musuh yang tidak pernah berputus asa daripada rancangannya untuk memusnahkan anak adam. Justeru kerana dendam dan kedengkiannya terhadap anak adam, maka mereka sentiasa mencari kesempatan untuk menunaikan tugasnya.

Dalil al-Qur'an,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,Al-Hijr:39

Dalil al-Qur'an,

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". Al-Hijr:40

Namun begitu syaitan tidak memiliki kemampuan yang bebas untuk mencelakakan anak adam, kerana mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan mereka berada di bawah kuasa Allah yang sepenuhnya. Syaitan adalah hamba Allah dan hanya boleh melakukan sesuatu dengan keizinan daripada Allah sahaja.

Lebih-lebih lagi Allah Ta'ala telah berjanji untuk melindungi orang-orang yang benar-benar beriman dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

{إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُو

“Sesungguhnya syaitan itu tidak memiliki kekuasaan (untuk mencelakakan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal (berserah diri) kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan syaitan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” an-Nahl: 99-100

Wahai yang berumur 40 tahun

Wahai yang berumur 40 tahun.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".Al-ahqaf: 15

Pembahasan usia lewat 40 tahun ini adalah sebagai suatu pertanda bahawa ada perkara yang perlu diperhatikan dengan penuh serius.

Perkara yang sebenarnya, adalah bahawa ia telah meninggalkan usia mudanya dan telah melangkah ke usia dewasa yang sebenar-benarnya.

Justeru itu pada usia ini manusia telah mencapai puncak kehidupannya samaada dari segi fisik, intelektual, emosi, mahupun spiritualnya.

Disaat umur ini, dia telah memiliki iman yang amat kokoh dan kekokohan imannya itu terserlah dari tabiat menggantungkan dirinya kepada Allah, iaitu dari setiap doa yang dimohon kepada Allah dikala bermunajat.

Diantara doa yang dianjukkan untuk dipohon adalah,

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Di dalamnya terkandung penjelasan yang jelas bahawa mereka telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang harmonis, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Kematangan dalam usia 40 tahun adalah bagi sesiapa yang bersungguh-sungguh dalam menjalani hidupnya dengan mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan dalam diri, membuang semua kejahilan ketika usia mudanya , mengambil tindakan dengan lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan penuh hikmah dan penuh penelitian.

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahuwata'ala telah berfirman,

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
Fathir:37

Fadilat solat berjamaah dan keutamaan Masjid

Fadilat solat berjamaah dan keutamaan Masjid

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ بِأَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ وَالْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ وَقَالَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Shalat seseorang dari kalian dengan berjama'ah akan ditambahkan pahalanya dibanding shalatnya di pasarnya atau di rumahnya dengan lebih dua puluh derajat. Yang demikian itu karena bila dia berwudhu' dengan menyempurnakan wudhu'nya lalu menuju ke masjid, yang dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat jamaah, tidak bergerak kecuali untuk shalat (berjama'ah), maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat baginya atau akan dihapuskan satu kesalahannya. Dan Malaikat akan mendo'akan salah seorang dari kalian selama dia masih pada tempat shalatnya yang dia dijadikannya sebagai tempat shalatnya, (do'a malaikat tersebut): "Ya Allah, berilah shalawat untuknya. Ya Allah, rahmatilah dia, selama dia belum berhadats dan tidak menyakiti orang lain disana ". Dan Beliau bersabda: " Salah seorang diantara kalian sudah dianggap mendirikan shalat, ketika menunggu waktu shalat didirikan". HR Bukhari,1976

Dalil al-Qur'an,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. At-Taubah:18

Dalil al-Qur'an,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Al-A'raf:31

Solat berjemaah adalah solat yang dilakukan secara beramai-ramai yang didirikan oleh sekurang-kurangnya 2 orang, iaitu seorang imam dan seorang makmum. Jika semakin ramai bilangan jemaah maka semakin besar pahala yang diperolehi. Diantara keterangan solat berjamaah berdasarkan hadith diatas adalah:

Ganjaran pahala bagi orang yang Solat secara berjamaah,
Dalam hadith lain, Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam ada bersabda,

عَنِو حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ و قَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ سَبْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً و حَدَّثَنَاه ابْنُ رَافِعٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِضْعًا وَعِشْرِينَ

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna, katanya; telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah katanya; telah mengabarkan kepadaku Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Shalatnya seseorang dengan berjama'ah melebihi shalatnya yang dikerjakan secara sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat." Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dan Ibnu Numair katanya, (dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dengan sanad seperti ini. Ibnu Numair berkata dari ayahnya dengan redaksi "Sebanyak dua puluh tujuh derajat." Abu Bakr berkata dalam priwayatannya; "Kurang lebih dua puluh derajat." Telah menceritakan kepada kami Ibnu Rafi' telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Fudaik telah mengabarkan kepada kami Adl Dlahak dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan redaksi "Kurang lebih dua puluh derajat." HR Muslim,1039

Ditinggikan darjat bagi setiap langkah yang dilangkahi menuju ke Masjid,
Dalam sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairan ra dan telah direkodkan oleh Abu Daud, bahawa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ بِأَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ وَلَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ وَيَقُولُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ أَوْ يُحْدِثْ فِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pahala shalat seseorang dengan berjamaah melebihi pahala shalatnya di rumah dan di pasar sebanyak dua puluh lima derajat. Hal tersebut, karena apabila seseorang di antara kalian berwudlu, lalu memperbagus wudlunya, kemudian pergi ke masjid semata mata karena untuk mengerjakan shalat, dan kesempatan itu hanya dipergunakan untuk shalat, maka orang tersebut tidak melangkahkan satu langkah, kecuali setiap langkahnya itu diangkat baginya satu derajat, dan dihapus darinya satu dosa, sampai dia masuk ke dalam masjid. Apabila dia telah masuk masjid, maka dia dihitung dalam keadaan shalat selama tertahan karena shalat (tidak keluar dari masjid karena menunggu shalat), dan para malaikat akan bershalawat (memohonkan rahmat dan ampunan) kepada seseorang di antara kalian, selama dia tetap berada di tempat dia mengerjakan shalatnya, mereka (para malaikat) berdoa; Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia dan terimalah taubatnya. Para malaikat itu berdoa demikian selama orang itu tidak mengganggu orang lain di tempat itu atau berhadats." HR Abu Daud,472. Sahih

Dihapuskan kesalahan bagi setiap langkah yang dilangkahi menuju ke Masjid, Dalam sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairan ra dan telah direkodkan oleh Bukhari pada hadith yang bernumber 457, bahawa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمِيعِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ وَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ وَتُصَلِّي يَعْنِي عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Shalat berjama'ah lebih utama dari shalatnya sendirian di rumah atau di pasarnya sebanyak dua puluh lima derajat. Jika salah seorang dari kalian berwudlu lalu membaguskan wudlunya kemudian mendatangi masjid dengan tidak ada tujuan lain kecuali shalat, maka tidak ada langkah yang dilakukannya kecuali Allah akan mengangkatnya dengan langkah itu setinggi satu derajat, dan mengahapus darinya satu kesalahan hingga dia memasuki masjid. Dan jika dia telah memasuki masjid, maka dia akan dihitung dalam keadaan shalat selagi dia meniatkannya, dan para malaikat akan mendoakannya selama dia masih berada di tempat yang ia gunakan untuk shalat, 'Ya Allah ampunkanlah dia. Ya Allah rahmatilah dia'. Selama dia belum berhadats." HR Bukhari 457

Mendapat doa dari Doa para Malaikat,Dalam sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairan ra dan telah direkodkan oleh Bukhari pada hadith yang bernumber 611, bahawa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid berkata, telah menceritakan kepada kami Al A'masy berkata, aku mendengar Abu Shalih berkata, Aku mendengar Abu Hurairah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shalat seorang laki-laki dengan berjama'ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama'ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo'akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, 'Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia'. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti palaksanaan shalat." HR Bukhari, 611.

Istidraj adalah kenikmatan yang berupa kemurkaan Allah

Istidraj adalah kenikmatan yang berupa kemurkaan Allah

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ أَبُو الْحَجَّاجِ الْمَهْرِيُّ عَنْ حَرْمَلَةَ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِيِّ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ }

Telah meneritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dia berkata, Telah meneritakan kepada kami Risydin -yakni Ibnu Sa'd Abul Hajjaj Al Mahari- dari Harmalah bin Imran At Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin Amir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat: '(Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa) '. (Qs. Al An'am: 44). HR Ahmad,16673

Dalil al-Qur'an

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” Al-A’raf: 99)

Makar ( مَكْرَ ) Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan atau kebahagiaan, namun mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa bimbang dengan istidraj yang berupa kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan akan menimpa keatas mereka azab dari Allah Subhanahuwata'ala.

Istidraj iaitu pemberian nikmat Allah Subhanahuwata'ala, kepada manusia yang mana pemberian itu sebenarnya tidak diredai olehNya.

Manusia yang diuji dengan istidraj akan memperoleh bermacam kenikmatan dunia sama ada dalam bentuk kekayaan, kejayaan, pangkat dan gelaran, pengiktirafan dan sanjungan, namun kesemua itu tidak menjadikan mereka hambaNya yang bersyukur, sebaliknya terus jauh daripada Allah Subhanahuwata'ala,. Mereka sangka Allah Subhanahuwata'ala.telah memberi mereka segalanya meski pun mereka ingkar kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” Luqmaan: 33

Allah Ta’ala juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” Al Hadid: 20

Berapa ramai orang yang terfitnah dengan kenikmatan, iaitu dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan, sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah Subhanahuwata'ala. Sedangkan ia tidak menyedari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang jahil, tertipu dengan keperluannya yang selalu dipenuhi dan aibnya yang selalu ditutupi oleh Allah Subhanahuwata'ala.

Sehingga dia tidak mampu untuk membezakan diantara nikmat dan fitnah, iaitu tidak dapat membezakan diantara kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadanya yang berupa kebaikan dariNya dan juga berupa kasih-sayangNya, yang dengannya ia dapat meraih kebahagiaan abadi ataupun dengan kenikmatan yang merupakan istidraj dari Allah Subhanahuwata'ala.

Sebagaimana firman Allah Subhanahuwata'ala,

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” Ali Imran: 196-197

Syirik Khafi lebih dahsyat dari fitnah al-Dajal

Syirik Khafi lebih dahsyat dari fitnah al-Dajal

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ رُبَيْحِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Katsir bin Zaid dari Rubaih bin Abdurrahman bi Abu Sa'id Al Khudri dari Ayahnya dari Abu Sa'id dia berkata, 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar bersama kami, sementara kami saling mengingatkan tentang Al Masih Ad Dajjal, maka beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?" Abu Sa'id berkata, "Kami menjawab, "Tentu." Beliau bersabda: "Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya." Ibnu Majah, 4194. Hasan

Dalil hadith,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ رُبَيْحِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ كُنَّا نَتَنَاوَبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَبِيتُ عِنْدَهُ تَكُونُ لَهُ الْحَاجَةُ أَوْ يَطْرُقُهُ أَمْرٌ مِنْ اللَّيْلِ فَيَبْعَثُنَا فَيَكْثُرُ الْمُحْتَسِبُونَ وَأَهْلُ النُّوَبِ فَكُنَّا نَتَحَدَّثُ فَخَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ مَا هَذِهِ النَّجْوَى أَلَمْ أَنْهَكُمْ عَنْ النَّجْوَى قَالَ قُلْنَا نَتُوبُ إِلَى اللَّهِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّمَا كُنَّا فِي ذِكْرِ الْمَسِيحِ فَرَقًا مِنْهُ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنْ الْمَسِيحِ عِنْدِي قَالَ قُلْنَا بَلَى قَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يَعْمَلُ لِمَكَانِ رَجُلٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Az Zubair berkata; telah menceritakan kepada kami Katsir bin Zaid dari Rubaih bin Abdurrahman bin Abu Sa'id Al Khudri dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata; "Kami saling bergantian menjaga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ketika tiba giliran kami menjaga Rasulullah, pada malam itu beliau mempunyai keperluan atau kebutuhan hingga mengutus kami, maka para sukarelawan dan orang yang berjaga-jaga pun membanjir tempat beliau, akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar ke arah kami dan bersabda: "Ini bisik-bisik apa? Bukankah aku telah melarang kalian dari berbisik-bisik?" Abu Sa'id berkata; Maka kami pun berkata; "Kami bertaubat kepada Allah wahai Nabi Allah, hanya saja kami sedang menyebut-nyebut tentang Al Masih karena takut bertemu dengannya, " beliau bersabda: "Maukah aku kabarkan sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Al Masih?" Abu Sa'id berkata; Kami berkata; "Tentu, " maka beliau bersabda: "Syirik kecil, yaitu seseorang beramal karena kedudukan orang lain."
HR Ahmad,10822.

Fitnah al-Dajjal

Fitnah Dajjal adalah fitnah terbesar semenjak Allah Ta’ala menciptakan Adam sampai hari kiamat. Keluarnya Dajjal termasuklah di antara rangkaian tanda-tanda besar munculnya hari kiamat. Dajjal telah menutup kebenaran dengan kebatilan serta menutup kekufurannya dengan kebohongan. Kemampuannya yang luarbiasa tersebut menimbulkan kerancuan yang membingungkan akal, sehingga membuat sebahagian manusia tertipu darinya serta muncullah kekufuran diserata alam.

Telah diriwayatkan dalam hadith-hadith sahih bahwasannya Dajjal membawa kebun dan api. Apinya adalah kebun sedangkan kebunnya adalah api. Dia peritahkan langit(dengan izin Allah) untuk menurunkan hujan dan menyuruh bumi agar menumbuhkan berbagai tumbuhan. Bersamanya panji-panji kekufuran yang memperdaya umat manusia disana-sini.

Begitulah hebatnya fitnah al-Dajjal namun fitnah syirik khafi lebih dibimbangi oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam yang akan menimpa umatnya tanpa mengira status kedudukan seseorang itu samaada dia sijahil atau sialim, ahli ibadah,pendakwah atau pejuang agama.

Fitnah syirik khafi

Syirik Khafi (tersamar) adalah penyakit yang akan menjangkiti niat dan tujuan pelakunya, meskipun secara zahir kelihatan dia beribadah kepada Allah Ta’ala namun pada hakikatnya adalah sebaliknya. Termasuk jenis Syirik Khafi adalah riya dan sum’ah.
Riya dan Sum’ah memiliki kesamaan dalam tujuan dalam ibadah, iaitu sebatas mengharapkan pujian atau sanjungan manusia. Adapun perbezaannya terdapat pada jenis ibadah yang dilakukan.

Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Al-Kahfi : 110).

Riya

Pengertian Riya menurut Bahasa: riya’ (الرياء) berasal dari kata الرؤية (ru’yah), yang bererti menampakkan. Riya ’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia.
Pengertian Riya Menurut Istilah iaitu: melakukan ibadah dengan niat supaya ingin dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah kepada Allah Subhanahuwata'ala..

Riya adalah apabila seseorang itu memperbagus dan menghiasi ibadah yang dia lakukan, agar orang lain melihatnya. Tujuannya adalah untuk pujian dan sanjungan manusia atau maksud lain yang semisal.Riya menjangkiti ibadah badan yang dilakukan. seperti memperbaguskan solat dihadapan orang lain,

Riya terbahagi kepada dua:

Riya kholis:
Iaitu beribadah untuk dipandang oleh manusia semata-mata.

Riya syirik:
Beribadah dengan niat untuk mendapat pahala dari Allah dan juga ingin mendapat perhatian atau imbuhan dari manusia,iaitu bercampur baur.

Dalil al-Qu'ran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Al-Baqarah:264

Dalil al-Qur'an:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” Al Maa’uun 4-6.

Sum'ah

Kata sum’ah (السمعة) berasal dari kata سمّع samma’a (memperdengarkan)
Kalimah ini digunakan jika seseorang menampakkan amalnya kepada manusia yang pada asalnya tidak mengetahuinya.

Pengertian sum’ah secara istilah(terminologi) adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal salihnya yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi dari pengetahuan manusia lain agar dirinya mendapatkan kedudukan atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan material

Sum’ah juga boleh menjangkiti ibadah lisan seperti memperindahkan bacaan Al Quran di hadapan manusia dan kerana ingan mendapat pujian dan sanjuangan manusia.

Dalil Al-Qur’an tentang sum’ah dan riya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” Al-Baqarah : 264

Dan juga sabda Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya. HR Bukhari